Liputan6.com, Jakarta - Menyukai seseorang yang sudah memiliki pasangan bisa menjadi pengalaman emosional yang rumit. Hati seolah tidak bisa diatur, sementara logika sadar bahwa hubungan itu mustahil dilanjutkan.
Fenomena ini kerap disebut 'forbidden crush' atau ketertarikan pada sosok yang tidak bisa dimiliki. Psikolog Suzanne Degges-White, Ph.D., menjelaskan bahwa rasa tertarik pada orang yang tak bisa dimiliki bisa menjadi bentuk perlindungan diri.
"Kadang orang memilih forbidden fruit karena merasa kurang percaya diri dengan daya tarik romantisnya. Mereka melindungi diri dari penolakan dengan menyukai sosok yang tak terjangkau," kata Degges-White.
Fenomena forbidden crush membuat sesuatu yang dilarang terasa lebih menggoda. Meski wajar, perasaan ini bisa memicu stres emosional, cemburu, dan patah hati diam-diam. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi mengganggu fokus dan interaksi sosial.
1. Batasi Interaksi dan Paparan
Salah satu cara paling efektif untuk meredakan perasaan adalah membatasi interaksi dengan orang yang kamu sukai. Sama seperti diet atau menghentikan kebiasaan buruk, mengurangi “paparan” bisa membantu otak tidak terlalu fokus padanya.
Cobalah untuk tidak mencari tahu aktivitas mereka lewat media sosial atau kurangi percakapan pribadi yang bisa memicu rasa baper. Degges-White menjelaskan bahwa otak cenderung sulit berhenti memikirkan sesuatu ketika terus mendapat pemicu.
“Membatasi paparan terhadap orang yang kita sukai dapat mengurangi intensitas emosi dan membantu kita kembali fokus pada diri sendiri,” katanya.
Alihkan perhatian dengan hobi, olahraga, atau aktivitas sosial lain agar energi emosional tidak terkuras untuk hal yang tidak mungkin terwujud. Dengan membatasi interaksi, kamu memberi ruang bagi dirimu untuk lebih rasional dan tidak larut dalam fantasi.
2. Jaga Jarak dengan Elegan
Jika kamu bekerja satu kantor atau tinggal dekat dengan orang tersebut, menjaga jarak mungkin terasa sulit. Namun, penting untuk mengatur batas agar tidak menimbulkan situasi canggung atau godaan berlebihan.
Kamu bisa fokus pada pekerjaan atau menghindari percakapan pribadi. Sikap profesional dan ramah tanpa berlebihan akan membantu membangun citra diri yang tegas namun santun.
Menurut Degges-White, kedewasaan dalam mengelola interaksi ini penting untuk kesehatan emosional.
“Kita tidak berkewajiban memberi penjelasan tentang jarak yang kita buat. Itu bentuk proteksi diri,” katanya.
Mengatur jarak juga memberi pesan pada diri sendiri bahwa kamu menghargai hubungan orang lain sekaligus menjaga integritas pribadi. Dengan begitu, kamu bisa terhindar dari drama yang tidak perlu dan tetap terlihat percaya diri.
3. Jangan Tergoda untuk Bertindak
Perasaan suka bisa memicu godaan untuk menggoda atau mencari perhatian. Namun, penting untuk mengingat dampak jangka panjang dari tindakan tersebut.
Bayangkan jika kamu berada di posisi pasangan mereka bagaimana rasanya jika pasanganmu bersikap genit dengan orang lain? Perspektif ini akan membantu kamu membuat keputusan yang lebih sehat.
Degges-White menekankan pentingnya menjaga harga diri. “Jika kita membiarkan diri terjebak dalam godaan yang kita tahu berpotensi merugikan, kita berisiko kehilangan rasa hormat baik dari diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
Mengendalikan diri bukan berarti menekan emosi, tetapi menempatkan integritas di atas perasaan sesaat. Dengan begitu, kamu tidak hanya melindungi dirimu, tapi juga menghindari konsekuensi emosional yang berat di masa depan.
4. Siap Menghadapi Rasa Sakit
Meski hubungan ini tidak pernah resmi, patah hati karena “crush terlarang” tetap bisa terasa menyakitkan. Kamu mungkin merasa kehilangan harapan atau kecewa karena fantasi yang tidak terwujud.
Namun, kabar baiknya adalah waktu akan membantu meredakan rasa sakit tersebut. Fokuslah pada hubungan sosial lain, kembangkan diri, dan temukan kesibukan baru.
“Hati kita bisa merindukan sesuatu yang tidak pernah ada. Tapi seiring waktu, paparan terhadap objek cinta tak terbalas ini akan terasa lebih ringan," kata Suzanne.
Proses penyembuhan mungkin tidak instan, tetapi setiap langkah menjauh adalah bentuk perawatan diri. Jangan ragu meminta dukungan teman atau keluarga agar tidak terjebak dalam kesedihan berkepanjangan.
5. Latih Teknik “Thought Stopping”
Thought stopping adalah teknik terapi kognitif yang membantu menghentikan pikiran obsesif. Saat kamu mulai memikirkan orang itu, secara sadar katakan “Stop!” pada diri sendiri, lalu alihkan perhatian ke aktivitas lain. Cara ini efektif untuk melatih kendali pikiran dan membantu fokus pada masa kini.
Suzanne menekankan bahwa teknik ini memang menantang, tapi hasilnya bisa sangat membantu.
“Begitu masa novelty atau pesona awal dari ketertarikan itu memudar, kita akan lebih mudah berpikir rasional dan fokus pada peluang yang nyata,” jelasnya.
Dengan latihan konsisten, kamu bisa membangun kebiasaan sehat dalam mengelola emosi dan tidak terjebak dalam fantasi yang menguras energi.