MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menduga siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri karena masalah kemiskinan. Dia berkata penguatan kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya tragedi itu.
"Sebagai antisipasi supaya ini tidak terjadi lagi," kata dia di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Februari 2026.
Ibu korban, kata dia, merupakan orang tua tunggal. Dia harus bekerja sepanjang hari. Keadaan itu membuat korban tidak bisa didampingi secara utuh. "Mungkin komunikasi juga tidak terjalin dengan baik," ujar dia.
Kementerian PPPA kini juga sedang mengupayakan penguatan kepada keluarga korban. Bersama dinas setempat, Kementerian PPPA akan memberikan pendampingan psikologis untuk keluarga korban. "Di sana belum ada psikolog klinis, maka akan didatangkan psikolog klinis dari kabupaten terdekat," kata dia.
Selain itu, Kementerian PPPA sedang berkoordinasi dengan dinas sosial dan dinas pendidikan setempat supaya kedua kakak siswa mendapatkan hak-haknya, termasuk hak pendidikan. "Akan diupayakan supaya kedua kakaknya ini bisa mendapatkan pendidikan," kata dia.
YBR, seorang anak kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidup dengan meninggalkan sepucuk surat. Surat itu ditujukan kepada ibunya yang berinisial MGT, 47 tahun. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya.
Korban yang berusia 10 tahun diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara ibunya adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibu korban mengurusi lima anak, termasuk korban.
Korban putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10 ribu, ibu korban menjawab bahwa mereka tak punya uang. Korban pun diduga mengakhiri hidupnya pada 29 Januari 2026.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, jenazah bocah berumur 10 tahun itu ditemukan di kebun milik neneknya. "Korban sudah dalam keadaan tergantung pada salah satu dahan pohon (cengkeh)," kata Henry kepada Tempo, Rabu, 4 Februari 2026.
Henry bercerita, korban awalnya dibangunkan oleh ibunya untuk bersekolah pada pagi hari sekitar pukul 7.30 WITA. Bocah tersebut sempat menolak karena merasa sakit kepala, tetapi oleh ibunya tetap dipaksa berangkat.
Korban diantar ke rumah neneknya oleh tukang ojek untuk mengambil seragam sekolah. Namun, sesampainya di sana, korban justru beranjak menuju bale yang berada di sekitar kebun milik neneknya.
Beberapa kerabat yang ada di sekitar rumah nenek korban juga sempat menanyakan alasan bocah tersebut tidak bersekolah. "Korban menjawab tidak pergi karena sakit kepala," tutur Henry lewat pesan singkat pada Rabu, 3 Februari 2026.
Sekitar pukul 11.00 WITA, korban terlihat sudah dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh di dekat bale tersebut. "Selanjutnya korban dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum," kata Henry.
Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan beberapa barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, dan selembar kertas tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya.
Henry mengatakan kepolisian hingga saat ini masih menyelidiki kasus kematian siswa SD tersebut. "(Proses) pengumpulan keterangan dari para saksi guna memastikan secara menyeluruh rangkaian peristiwa," ujar Henry.

12 hours ago
6























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5117597/original/019492500_1738414531-kocijan_psm_01022025_bar_0a865dd48a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4718808/original/047453500_1705487743-front-view-beautiful-young-businesswoman-black-jacket-blue-shirt-sneezing-front-table-business-job-office.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453622/original/095738100_1766482777-Arema_FC_vs_Madura_United.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440577/original/022085500_1765438149-konsultasi_psikologi.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325171/original/046200700_1755931578-Redmi_Note_15_Pro_02.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368344/original/032314400_1759374030-M7_World_Championship_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/2917791/original/093982300_1569040742-IMG_20190920_180127.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5266148/original/015491800_1750972925-juventus_vs_man_city_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5340242/original/084156700_1757158084-7e131kgd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5073013/original/043369600_1735616374-AP24365781078977.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5106664/original/059510700_1737619553-GalaxyS25Ultra04.jpg)
English (US) ·